Selasa, 11 November 2014

TUGAS UAS BLOK III Novy Gosan / 705140033



Perkembangan Emosi pada Remaja

Latar Belakang
     Emosi adalah salah satu aspek perkembangan yang sangat berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku remaja. Jika dilihat dari tiga, ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik, emosi termasuk ke dalam ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kehendak. Remaja akan melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang baik pula. Remaja akan memberikan tanggapan yang positif terhadap suatu objek disertai dengan pemikiran positif. Sebaliknya, remaja akan melakukan pengamatan atau tanggapan negatif terhadap suatu objek, jika disertai oleh emosi yang negatif terhadap objek tersebut (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014).

Pengertian Emosi
     Menurut Psikologi. Emosi diterangkan sebagai respons perilaku yang pencapaiannya menunjukan proses yang spesifik (Djohan, 2009, h. 80).
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).
    
Bentuk-Bentuk Emosi
    Emosi merupakan ranah afektif  yang menyertai setiap keadaan atau perilaku remaja.  Ranah afektif adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi tertentu, misalnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, atau benci.
    Goleman (dikutip dalam Ali dan Asrori 2014), menggolongkan bentuk emosi sebagai berikut: a) amarah, beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, tersinggung, bermusuhan, dan paling hebat adalah tindakan kekerasan dan kebencian patologis; b) kesedihan, pedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesedihan, ditolak, dan depresi berat; c) rasa takut, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspara, tidak senang, ngeri, takut sekali, fobia dan panic; d) kenikmatan, bahagia, gembira, puas, terhibur, bangga, takjub, terpesona, senang sekali dan manis; e) cinta, persahabatan, penerimaan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasmaran; f) terkejut, terpana dan takjub; g) jengkel, hina, jijik, muak, benci; dan h) malu, rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
     Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak dan memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
     Perkembangan emosi remaja pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah laku. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada remaja tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri dan memukul-mukul kepala sendiri (Ali & Asrori, 2014, h. 69-71).
     Sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut.
     Perubahan Jasmani. Ditunjukan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak semua remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
     Perubahan Pola Interaksi dengan OrangTua. Pola asuh orangtua terhadap remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang dengan penuh cintah kasih. Perbedaan pola asuh orangtua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja. Cara memberikan hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orangtuanya.
     Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya. Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antaranggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi.
     Perubahan Pandangan Luar. Faktor penting yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut (a) sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten, (b) dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan, dan (c) seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan carab melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral.
     Perubahan Interaksi dengan Sekolah. Pada masa anak-anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak heran anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk perkembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
     Emosi merupakan ranah afektif  yang menyertai setiap keadaan atau perilaku remaja. Yang dimaksud ranah afektif ini adalah perasaan–perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu, contohnya: gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya.
     Ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku remaja diantaranya sebagai berikut: (a) memperkuat semangat, apabila remaja merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai; (b) melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa atau frustasi; (c) menghambat atau menganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara; (d) terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati; dan (e) suasana emosional yang diterima dan dialami remaja semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain (Terapi Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, 2014).

Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi Pendidikan
     Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar mengembangkan: a) keterampilan emosional, cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkannya adalah mengendalikan dorongan hati, mengurangi stres, dan mengelola perasaan; b) keterampilan kognitif, cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkannya adalah belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mnegatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri, dan belajar mengalami sudut pandang orang lain, dan c) keterampilan perilaku, cara mengembangkannya adalah mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal dan mempelajari keterampilan komunikasi verbal (Ali & Asrori, 2014, h. 77).

Simpulan
     Emosi merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia, khususnya remaja. Emosi adalah suatu aspek yang dapat meresap ke dalam eksistensi remaja, berhubungan secara praktis ke semua perilaku remaja, seperti tindakan, persepsi, memori, belajar, atau dalam membuat keputusan. Bentuk-bentuk emosi yaitu amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, malu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah faktor perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orangtua, perubahan interaksi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, dan perubahan interaksi dengan sekolah. Kemudian upaya mengembangkan emosi remaja, yaitu pengembangan keterampilan emosional, pengembangan keterampilan kognitif, dan pengembangan keterampilan perilaku. 



DAFTAR PUSTAKA
Ali, M dan Asrori, M. (2014). Psikologi Remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Djohan. (2009). Apakah Emosi. Dalam Mardiyanto (Ed.), Psikologi musik (3rd ed.). Yogyakarta: Penerbit Best Publishing.
Haryanto. (2009) Pengertian emosi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
Pusat Bahasa Depdiknas, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (3 Ed). diunduh dari http://kbbi.web.id/emosi
Terapi Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, (2014). Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perilaku fisik. Diunduh dari http://terapiemosi.com/2014/08/10/pengaruh-emosi-terhadap-perilaku-dan-perubahan-fisik-indivdu/

TUGAS AKHIR UAS NOVY GOSAN / 705140033


     Perkembangan Emosi pada Remaja

Latar Belakang
     Emosi adalah salah satu aspek perkembangan yang sangat berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku remaja. Jika dilihat dari tiga, ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik, emosi termasuk ke dalam ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan kehendak. Remaja akan melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika disertai dengan emosi yang baik pula. Remaja akan memberikan tanggapan yang positif terhadap suatu objek disertai dengan pemikiran positif. Sebaliknya, remaja akan melakukan pengamatan atau tanggapan negatif terhadap suatu objek, jika disertai oleh emosi yang negatif terhadap objek tersebut (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014).

Pengertian Emosi
     Menurut Psikologi. Emosi diterangkan sebagai respons perilaku yang pencapaiannya menunjukan proses yang spesifik (Djohan, 2009, h. 80).
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).
    
Bentuk-Bentuk Emosi
    Emosi merupakan ranah afektif  yang menyertai setiap keadaan atau perilaku remaja.  Ranah afektif adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi suatu situasi tertentu, misalnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, atau benci.
    Goleman (dikutip dalam Ali dan Asrori 2014), menggolongkan bentuk emosi sebagai berikut: a) amarah, beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, tersinggung, bermusuhan, dan paling hebat adalah tindakan kekerasan dan kebencian patologis; b) kesedihan, pedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, kesedihan, ditolak, dan depresi berat; c) rasa takut, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspara, tidak senang, ngeri, takut sekali, fobia dan panic; d) kenikmatan, bahagia, gembira, puas, terhibur, bangga, takjub, terpesona, senang sekali dan manis; e) cinta, persahabatan, penerimaan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasmaran; f) terkejut, terpana dan takjub; g) jengkel, hina, jijik, muak, benci; dan h) malu, rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
     Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak dan memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja
     Perkembangan emosi remaja pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah laku. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada remaja tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri dan memukul-mukul kepala sendiri (Ali & Asrori, 2014, h. 69-71).
     Sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut.
     Perubahan Jasmani. Ditunjukan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak semua remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
     Perubahan Pola Interaksi dengan OrangTua. Pola asuh orangtua terhadap remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada juga yang dengan penuh cintah kasih. Perbedaan pola asuh orangtua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja. Cara memberikan hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orangtuanya.
     Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya. Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antaranggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi.
     Perubahan Pandangan Luar. Faktor penting yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut (a) sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten, (b) dunia luar atau masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan, dan (c) seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan carab melibatkan remaja tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral.
     Perubahan Interaksi dengan Sekolah. Pada masa anak-anak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak heran anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk perkembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
     Emosi merupakan ranah afektif  yang menyertai setiap keadaan atau perilaku remaja. Yang dimaksud ranah afektif ini adalah perasaan–perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu, contohnya: gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya.
     Ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku remaja diantaranya sebagai berikut: (a) memperkuat semangat, apabila remaja merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai; (b) melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa atau frustasi; (c) menghambat atau menganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara; (d) terganggu penyesuaian sosial, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati; dan (e) suasana emosional yang diterima dan dialami remaja semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain (Terapi Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, 2014).

Upaya Mengembangkan Emosi Remaja dan Implikasinya bagi Pendidikan
     Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar mengembangkan: a) keterampilan emosional, cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkannya adalah mengendalikan dorongan hati, mengurangi stres, dan mengelola perasaan; b) keterampilan kognitif, cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkannya adalah belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk menghadapi dan mnegatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri, dan belajar mengalami sudut pandang orang lain, dan c) keterampilan perilaku, cara mengembangkannya adalah mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal dan mempelajari keterampilan komunikasi verbal (Ali & Asrori, 2014, h. 77).

Simpulan
     Emosi merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia, khususnya remaja. Emosi adalah suatu aspek yang dapat meresap ke dalam eksistensi remaja, berhubungan secara praktis ke semua perilaku remaja, seperti tindakan, persepsi, memori, belajar, atau dalam membuat keputusan. Bentuk-bentuk emosi yaitu amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, malu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah faktor perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orangtua, perubahan interaksi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, dan perubahan interaksi dengan sekolah. Kemudian upaya mengembangkan emosi remaja, yaitu pengembangan keterampilan emosional, pengembangan keterampilan kognitif, dan pengembangan keterampilan perilaku. 



DAFTAR PUSTAKA
Ali, M dan Asrori, M. (2014). Psikologi Remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Djohan. (2009). Apakah Emosi. Dalam Mardiyanto (Ed.), Psikologi musik (3rd ed.)Yogyakarta: Penerbit Best Publishing.
Haryanto. (2009) Pengertian emosi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
Pusat Bahasa Depdiknas, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (3 Ed). diunduh dari http://kbbi.web.id/emosi


Terapi Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, (2014). Pengaruh emosi terhadap perilaku dan perilaku fisik. Diunduh dari http://terapiemosi.com/2014/08/10/pengaruh-emosi-terhadap-perilaku-dan-perubahan-fisik-indivdu/

Rabu, 05 November 2014

Karya Ilmiah Novy Gosan 705140033

Kejahatan Dalam Lingkungan Masyarakat

Pengertian Kejahatan
    Pengertian kejahatan menurut para ahli. Menurut Soesilo (dikutip dalam Utomo, 2013) mengatakan kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban (Soesilo, 1985). Menurut Sahetapy dan Reksodiputro (Husein, 2003) mengatakann kejahatan mengandung konotasi tertentu, merupakan suatu pengertian dan penamaan yang relatif, mengandung variabilitas dan dinamik serta bertalian dengan perbuatan atau tingkah laku (baik aktif maupun pasif), yang dinilai oleh sebagian mayoritas atau minoritas masyarakat sebagai suatu perbuatan anti sosial, suatu perkosaan terhadap skala nilai sosial dan atau perasaan hukum yang hidup dalam masyarakat sesuai dengan ruang dan waktu.


  Pengertian kejahatan menurut hukum pidana. Pidana atau tindak kriminal segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan pemaksaan seksual dengan cara tidak wajar, baik untuk suami maupun untuk orang lain untuk tujuan komersial, atau tujuan tertentu ; dan  penelantaran rumah tangga yang terjadi dalam lingkup rumah tangganya, yang mana menurut hukum diwajibkan atasnya. Selain itu penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah, sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (Lubis, 2010)

Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga
     Kekerasan dalam rumah tangga sering kali kerap terjadi selama ini adalah dikarenakan kuatnya dorongan maskulinitas tradisional, yang mengakibatkan kebanyakan pria terjerat dalam konstruksi sosial masyarakat yang patriarki. Pria yang terjerat dalam konstruksi sosial patriarki ini kerap tidak kuat menanggung rasa malu atas kegagalannya, menanggung beban sosial yang dirasakan berat. Dalam konstruksi masyarakat patriarki, beban sosial pria adalah  harus tampil kuat, jantan, mampu secara ekonomi dan bentuk-bentuk maskulinitas tradisionallainnya. Tidak heran bila kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terus saja terjadi, pelakunya kebanyakan pria, yang dominan dalam hubungan rumah tangga. Sementara dari pihak perempuan yang kebanyakan menjadi korban biasanya enggan melaporkan tindakan ini atau menutup rapat kasus yang dialaminya ataupun karena diancam oleh pelaku (Ramadhan, 2013).

Jenis-jenis Kekerasan dalam Rumah Tangga
     Ada empat jenis kekerasan dalam rumah tangga, yaitu a) kekerasan dalam rumah tangga secara fisik, b) kekerasan dalam rumah tangga secara psikis, c) kekerasan dalam rumah tangga secara seksual, dan d) kekerasan dalam rumah tangga secara ekonomi (Buku Saku Panduan Memahami KDRT, 2013).



Dampak Buruk terhadap Psikologis Korban
      KDRT dapat menimbulkan dampak yang serius pada korban dan orang terdekatnya 
(misal: anak). Adanya dampak fisik mungkin lebih tampak. Misal: luka, rasa sakit, kecacatan,
kehamilan, keguguran kandungan, kematian. Apapun bentuk kekerasannya, selalu ada dampak 
psikis dari KDRT. Dampak psikis dapat dibedakan dalam ”dampak segera” setelah kejadian, 
serta ”dampak jangka menengah atau panjang” yang lebih menetap. Dampak segera, seperti
rasa takut dan terancam, kebingungan, hilangnya rasa berdaya, ketidakmampuan berpikir, 
konsentrasi, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan. Mungkin pula terjadi gangguan makan 
dan tidur (Indrarani, 2012).




DAFTAR PUSTAKA

Indrarani, S. (2012). Kekerasan dalam rumah tangga. Diunduh dari http://www.psikologikita.com/?q=kekerasan-dalam-rumah-tangga
Lubis, M. S. (2010). Kekerasan dalam rumah tangga KDRT. Diundah dari http://www.kantorhukum-lhs.com/artikel-hukum/n?id=Kekerasan-Dalam-Rumah-Tangga-KDRT
Utomo, A. (2013). Kitab undang-undang hukum. Indonesia: Politeria. Diunduh dari  http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl294/definisi-kejahatan-dan-jenis-jenis-kejahatan-internet
Ramadhan, H. (2013). Penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Diunduh dari
Buku Saku Panduan Memahami KDRT, (2013). Jenis-jenis kdrt. Palembang, Indonesia: WCC. Diundah dari http://rumahibumso.com/index.php/posting/72

Kamis, 25 September 2014

FILSAFAT MANUSIA

FILSAFAT MANUSIA
Hai Guys Again... hehehe
Jangan bosan - bosan ya kunjungin blok saya kalini yang akan saya post tentang "Filsafat Manusia" yaitu tentang kita sendiri yuik di baca...



FILSAFAT MANUSIA
Pengertian, Hakikat, Metode dan Tujuan

 v Apa itu filsafat? Perenungan kefilsafatan?
-          Filsafat : philein (mencintai); sophia (kebijaksanaan)
-          Filsafat sebagai perenungan dicirikan oleh:
o   Mengkaji segala hal secara kritis
o   Menggunakan metode dialektis
o   Berusaha mencapai realitas terdalam (arkhe)
o   Bertujuan menangkap tujuan ideal realitas
o   Mengetahui bagaimana harus hidup sebagai manus
-          Jadi…
o   Filsafat sebagai hasil perenungan
o   Filsafat sebagai kritik
o   Filsafat sebagai ilmu yang berusaha mencari kebenaran secara metodik, sistematis, rasional, runtut, radikal dan bertanggungjawab

 v  Philosophy is for those who are willing to be disturbed with a creative disturbance……Philosophy is for those who still have the capacity to WONDER….”
( Philosophy an introduction to the Art of Wondering by James L. Christian, prelude. )


 v Apa itu filsafat manusia?
      Bagian filsafat yang mengupas apa arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia
      Memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia
      Hasrat untuk tahu siapa dan apakah manusia.
      Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

 v Istilah terkait filsafat manusia 
Dulu:
o   Psikologi filosofis
o   Psikologi rasional
Sekarang:
o   Filsafat manusia
o   Antropologi filofis
Mengapa istilah ini lebih tepat? Keutuhan/tak hanya mempelajari jiwa, tapi tubuh dan jiwa, roh dan daging (tubuh, jiwa, roh?)

 v Apa perlunya mempelajari filsafat manusia?
-          Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”
-          Manusia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
o   Boleh saja tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.

 v  Sulitkah berfilsafat tentang manusia?
      Ya, karena seolah tak berguna atau tak mungkin
      Zaman sekarang banyak ilmu yang mengkaji manusia yang memperkaya dan memperdalam pengetahuan tentang manusia. Lalu, apa perlunya lagi filsafat manusia?
      Karena belum cukup!
      Para filsuf saling bertentangan, mungkin mereka juga salah.
      Karenanya, ingat tujuan filsafat di atas tadi

 v Jadi masih perlu dan masih mungkinkah berfilsafat manusia?
-          Masih
-          Pandangan yang bertentangan antar filsuf dapat diatasi dan diperdamaikan
-          “kesalahan” para filsuf dapat dikoreksi lagi
-           Sayang bukan bila tidak mendalami ajaran filosofis yang begitu mendalam dari para filsuf antara lain :
a.      Plato
b.      Aristoteles
c.       Merleau-Ponty
d.      Paul Ricoeur
e.      Martin Heidegger
f.        Soren Kierkegaard
g.      Emmanuel Levinas
h.      Gabriel Marcel
i.        Jacques Lacan
j.        Jacques Derrida dll
-          Konsepsi mereka begitu mendalam dan holistic

 v Jadi, relevankah filsafat manusia?
-          Ya, manusia itu dinamis, misteri dan paradoksal
-          Alasan:
a.      Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
b.      Dengan mendalami manusia, manusia mengenal dirinya lebih baik
c.       Sebagai konsekuensi no.2 di atas, filsafat manusia mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama. Misalnya kata Karl Marx, Erich Fromm dan E. Levinas

 v  METODE FILSAFAT MANUSIA
-          Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya
-          Yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa
-          Juga: ekstensif, intensif dan kritis

 v Objek filsafat manusia
-          Objek material: manusia
-          Objek formal: esensi manusia, strukturnya yang fundamental
-          Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.

 v Pertanyaan apa saja yang hendak dijawab?
-          Apakah manusia itu?
-          Siapakah manusia itu?
-          Apakah makna eksistensi manusia?
-          Apakah artinya manusia dan bagaimana masa depan manusia?

 v Dalam kehebohan tentang cloning
-         Apa artinya hidup yang manusiawi?
-         Apakah artinya pro-kreasi?
-         Apakah manusia boleh menciptakan manusia dengan teknologi paling mutakhir?
-         Apakah manusia boleh mengubah “kodratnya”?
-         Apakah tanggung jawab manusia?
-         Apakah manusia boleh dijadikan objek eksperimen?
-         Apa artinya “yang kodrati” itu?

 v Kata Max Scheler dan Heidegger
-          Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya

 v Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University Press, 1965
-         Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya

v Dari mana datangnya pertanyaan mengenai manusia?
o   Kekaguman
o   Ketakjuban
o   Frustrasi
o   Delusi
o   Pengalaman negatif
-          “aku menjadi masalah besar bagi diriku” kata Augustinus yang sedih karena kematian temannya
-          “karena kita adalah manusia yang akan mati…kita tidak akan puas dengan perubahan formasi sosial melulu, tetapi kita ingin mengetahui persoalan pribadi” (Adam Schaft)
-          Refleksi filosofis tentang manusia dapat tumbuh dari pengalaman akan kehampaan, alienasi, rutinitas, dan absurditas  sebagaimana digambarkan oleh Albert Camus

 v Apa saja yang dibahas dalam filsafat manusia?

  ¡    Mencari kekhasan manusia
  ¡  Manusia sebagai “ada-di-dunia”
  ¡  Evolusi
  ¡  Antarsubyektivitas (sosialitas manusia)
  ¡  Manusia sebagai eksistensi bertubuh
  ¡  Transendensi
  ¡  Manusia sebagai roh
  ¡  Pengetahuan manusia
  ¡  Kebebasan
  ¡  Kesejarahan/historisitas
  ¡  kebudayaan, sains dan teknologi
  ¡  Dimensi antropologis dari pekerjaan
  ¡  Manusia sebagai pribadi/persona
  ¡  Kematian dan harapan


Sumber Oleh : Power Point yang telah diberikan oleh