Perkembangan Emosi pada
Remaja
Latar Belakang
Emosi adalah salah satu aspek perkembangan
yang sangat berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku remaja. Jika dilihat
dari tiga, ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik, emosi
termasuk ke dalam ranah afektif. Emosi banyak berpengaruh terhadap
fungsi-fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan
kehendak. Remaja akan melakukan pengamatan atau pemikiran dengan baik jika
disertai dengan emosi yang baik pula. Remaja akan memberikan tanggapan yang
positif terhadap suatu objek disertai dengan pemikiran positif. Sebaliknya,
remaja akan melakukan pengamatan atau tanggapan negatif terhadap suatu objek,
jika disertai oleh emosi yang negatif terhadap objek tersebut (dikutip dalam
Ali & Asrori, 2014).
Pengertian Emosi
Menurut Psikologi. Emosi diterangkan
sebagai respons perilaku yang pencapaiannya menunjukan proses yang spesifik (Djohan,
2009, h. 80).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu
singkat; keadaan dan reaksi
psikologis dan fisiologis seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan (Kamus
Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2014).
Bentuk-Bentuk
Emosi
Emosi merupakan ranah
afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku remaja. Ranah
afektif adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi
suatu situasi tertentu, misalnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, atau
benci.
Goleman (dikutip dalam
Ali dan Asrori 2014), menggolongkan bentuk emosi sebagai berikut: a) amarah,
beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu,
tersinggung, bermusuhan, dan paling hebat adalah tindakan kekerasan dan
kebencian patologis; b) kesedihan, pedih, muram, suram, melankolis, mengasihi
diri, kesedihan, ditolak, dan depresi berat; c) rasa takut, takut, gugup,
khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspara, tidak senang, ngeri, takut sekali,
fobia dan panic; d) kenikmatan, bahagia, gembira, puas, terhibur, bangga,
takjub, terpesona, senang sekali dan manis; e) cinta, persahabatan,
penerimaan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan
kasmaran; f) terkejut, terpana dan takjub; g) jengkel, hina, jijik, muak,
benci; dan h) malu, rasa bersalah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, dan
hati hancur lebur.
Seperti yang telah
diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah
dorongan untuk bertindak dan memberikan respon atau bertingkah laku terhadap
stimulus yang ada.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Emosi Remaja
Perkembangan emosi remaja pada
umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah laku. Kualitas atau fluktuasi
gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat
fluktuasi emosi yang ada pada remaja tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat beberapa tingkah
laku emosional, misalnya agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis, dan
tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri dan memukul-mukul
kepala sendiri (Ali & Asrori, 2014, h. 69-71).
Sejumlah faktor yang
mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut.
Perubahan Jasmani. Ditunjukan dengan adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari anggota tubuh.
Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu
saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi tidak seimbang. Ketidakseimbangan
tubuh ini sering mempunyai akibat yang tak terduga pada perkembangan emosi
remaja. Tidak semua remaja dapat menerima perubahan kondisi tubuh seperti itu,
lebih-lebih jika perubahan tersebut menyangkut kulit yang menjadi kasar dan
penuh jerawat. Hormon-hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan
perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam
tubuh remaja dan seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
Perubahan Pola Interaksi dengan OrangTua. Pola asuh orangtua terhadap remaja,
sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh
dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh
tak acuh, tetapi ada juga yang dengan penuh cintah kasih. Perbedaan pola asuh
orangtua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi
remaja. Cara memberikan hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal,
pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang
lebih berat antara remaja dengan orangtuanya.
Perubahan Interaksi dengan Teman Sebaya. Remaja seringkali membangun interaksi
sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan
aktivitas bersama dengan membentuk semacam geng. Interaksi antaranggota dalam
suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan
solidaritas yang sangat tinggi.
Perubahan Pandangan Luar. Faktor penting yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja selain
perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan
dunia luar. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan
konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut (a) sikap
dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten, (b) dunia luar atau
masyarakat masih menerapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan
perempuan, dan (c) seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar
yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan carab melibatkan remaja tersebut ke
dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai-nilai moral.
Perubahan Interaksi dengan
Sekolah. Pada masa anak-anak,
sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang
diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam
kehidupan mereka karena selain tokoh intelektual, guru juga merupakan tokoh
otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu tidak heran anak-anak
lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada
orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategis apabila digunakan untuk
perkembangan emosi anak melalui penyampaian materi-materi yang positif dan
konstruktif.
Pengaruh Emosi Terhadap
Tingkah Laku
Emosi merupakan ranah afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku
remaja. Yang dimaksud ranah afektif ini adalah
perasaan–perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu
situasi tertentu, contohnya: gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci
(tidak senang), dan sebagainya.
Ada beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku remaja diantaranya sebagai berikut: (a) memperkuat
semangat, apabila remaja merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai; (b) melemahkan
semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari
keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa atau frustasi; (c) menghambat atau menganggu
konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga
menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara; (d) terganggu penyesuaian sosial, apabila
terjadi rasa cemburu dan iri hati; dan (e) suasana emosional yang diterima dan
dialami remaja semasa kecilnya akan mempengaruhi
sikapnya di kemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang
lain (Terapi
Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, 2014).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan emosi remaja agar
berkembang ke arah kecerdasan emosional antara lain dengan belajar
mengembangkan: a) keterampilan emosional, cara yang dapat dilakukan untuk
mengembangkannya adalah mengendalikan dorongan hati, mengurangi stres, dan
mengelola perasaan; b) keterampilan kognitif, cara yang dapat dilakukan untuk
mengembangkannya adalah belajar melakukan dialog batin sebagai cara untuk
menghadapi dan mnegatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri, dan
belajar mengalami sudut pandang orang lain, dan c) keterampilan perilaku, cara
mengembangkannya adalah mempelajari keterampilan komunikasi nonverbal dan
mempelajari keterampilan komunikasi verbal (Ali & Asrori, 2014, h. 77).
Simpulan
Emosi merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia, khususnya
remaja. Emosi adalah suatu aspek yang dapat meresap ke dalam eksistensi remaja,
berhubungan secara praktis ke semua perilaku remaja, seperti tindakan,
persepsi, memori, belajar, atau dalam membuat keputusan. Bentuk-bentuk emosi
yaitu amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel,
malu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah faktor
perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orangtua, perubahan
interaksi dengan teman sebaya, perubahan pandangan luar, dan perubahan interaksi
dengan sekolah. Kemudian upaya mengembangkan emosi remaja, yaitu pengembangan
keterampilan emosional, pengembangan keterampilan kognitif, dan pengembangan
keterampilan perilaku.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M dan Asrori, M. (2014). Psikologi Remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Djohan.
(2009). Apakah Emosi. Dalam Mardiyanto (Ed.), Psikologi musik (3rd ed.). Yogyakarta:
Penerbit Best Publishing.
Haryanto.
(2009) Pengertian emosi. Diunduh dari
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
Pusat Bahasa Depdiknas, (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia
(3 Ed). diunduh dari http://kbbi.web.id/emosi
Terapi
Emosi Anda Sebelum Emosi Menterapi Anda, (2014). Pengaruh emosi terhadap
perilaku dan perilaku fisik. Diunduh dari http://terapiemosi.com/2014/08/10/pengaruh-emosi-terhadap-perilaku-dan-perubahan-fisik-indivdu/






0 komentar:
Posting Komentar